IKATAN GURU INDONESIA

Dear All,

Setelah saya mencermati perkembangan kita di IGI akhir-akhir ini, terutama terkait dengan event-event massal yang menjanjikan kehadiran pejabat, ditambah dengan adanya beberapa keluhan dari berbagai pihak, termasuk anggota IGI, masyarakat audiens, dan bahkan dari pihak pejabat itu sendiri ke IGI, maka kita harus segera MENGAMBIL SIKAP! Yang lalu biarlah berlalu! Cukuplah sudah IGI Jateng , IGI Jambi, atau beberapa IGI Wilayah atau Daerah yang lain yang mendapatkan appointment dari mereka-mereka yang oleh sebagian orang dianggap "orang-orang terpenting", lalu turun disposisi ke orang di bawahnya yang "kurang terlalu terpenting", lalu di bawahnya lagi yang "tidak terlalu terpenting", dan di bawahnya lagi yang"tidak terpenting sama sekali".

Sedikit review dan evaluasi untuk pembelajaran mungkin bisa saya paparkan pengalaman tentang kegiatan SEMINAR INTERNASIONAL DAN PELANTIKAN PP IGI DI SEMARANG pada tanggal 10 April 2016 sebagai berikut:

1. Bahwa kenyataan ada sederet achievement yang dilakukan para panitia IGI Jateng dalam kegiatan tersebut yang patut kita apresiasi, antara lain:
• Pelaksanaan kegiatan hanya satu bulan dari rapat awal panitia berasal dari dari 20 kabupaten-kota di seluruh jateng, dan mereka berkumpul hanya dua kali, di LPMP Jateng dan di Rembang saat muswil (Muswil dadakan yang sukses, jempol untuk IGI Rembang). Semuanya atas biaya kawan-kawan sendiri.
• Rapat virtual berlangsung dalam rgrup-grup kepanitian di WA dan itu berlangsung dalam waktu hampir tanpa batas sepanjang persiapan kegiatan sampai kurang lebih seminggu setelah kegiatan untuk penuntasan pekerjaan kepanitiaan.
• Panitia dalam tiga hari (48 jam) bisa menarik peserta sebanyak 644 orang yang mendaftar secara online, mengkonfirmasi kehadiran dengan transfer, dan bekerja keras membatasi jumlah kehadiran peserta baru. Animo peserta menjadi sangat tinggi karena IGI Jateng biasanya mengadakan acara seminar besar hanya setahun sekali atau dua kali. Biaya sangat murah, apalagi Gubernur dan menteri kita undang sebagai pembicara. Di samping itu, host diskusi panelnya para penyiar radio terkenal di ibukota Jateng.
• Jumlah peserta yang semula kita targetkan 1000 orang kita kurangi 40% tetapi seminarnya kita ubah menjadi seminar internasional dengan menghadirkan peserta dan pembicara dari LN serta target vicon dengan beberapa negara melalui SEAMOLEC.
• Mars dan Hymne IGI berkumandang dengan merdu untuk pertama kalinya.
• Sekolah-sekolah ternama yang kaseknya kebetulan pengurus IGI tidak segan-segan menyumbangkan kreativitas murid dan gurunya.
• Kehadiran PP dari seluruh Indonesia yang dilantik sekitar 75%. Pendeknya, semua acara berjalan ideal. Peserta kalau dihitung indeks kepuasannya mungkin bisa di atas 80%, dst.

2. Bahwa kenyataan kegiatan tersebut ternyata berbarengan dengan kunjungan presiden di dua kota di Jateng adalah sesuatu yang tidak terhindarkan. Jadi tidak mungkin kita re-schedule kegiatan karena bertabrakan dengan kegiatan RI-1, dan ini tentu kontra produktif jika kita berharap banyak dari kehadiran para pejabat penting. Pejabat pasti akan memilih mengikuti presiden daripada mengikuti kegiatan IGI Jateng, meskipun saya pribadi sudah menyampaikan sendiri ke gubernur tentang rencana kegiatan kita dan beliau mengatakan , YA! Surat menyurat sudah kita kawal dengan menugaskan orang-orang khusus yang TIDAK SEMBARANGAN. Demikian juga halnya dengan surat ke Dirjen dan Menteri, yang akhirnya kita siasati dengan menayangkan video sambuatan pak menteri pada saat kita audiensi satu hari sebelum hari H. Namun yang tidak bisa diubah adalah, KITA SUDAH BERJANJI MENDATANGKAN ORANG-ORANG TERPENTING DAN YANG HADIR TERNYATA BUKAN MEREKA!

3. Bahwa IGI sebagai organisasi profesi yang independen, yang merdeka, yang dikelola oleh guru-guru Indonesia yang BERMARTABAT dan BERPRESTASI harus kembali kepada semangat, TIDAK TERGANTUNG KEPADA PEJABAT MANAPUN IGI TETAP SURVIVE! Bekerjasama dengan siapapun termasuk para pejabat is OK, tapi jangan itu menjadikan kita TERGANTUNG dan cenderung berdampak kurang baik bagi masa depan IGI.
Untuk itu saya menyerukan agar mulai saat ini IGI TIDAK SEMATA-MATA menggantungkan dan mempertaruhkan nama besar kita dari nama besar para pejabat. Mengapa? Kejadian terus berulang, dan mungkin kita akan kecewa berulang karena merasa di PHP-in. KIta mungkin saja maklum dan bisa mengerti akan ketidak hadiran para pembesar dalam kegiatan kita, tetapi audiens mana mau tahu? Imbasnya adalah pada kredibilitas IGI. Mereka akan menganggap IGI sebagai organisasi yang, maaf, omdo alias omong doang dan di dalam hati mereka mungkin akan berkumandang lagu Bang Haji ini, “ … Kau yang berjanji kau yang menginkari,… Kau yang mulai kau yang mengakhiri…”. Untuk itu perlu dilakukan cara-cara lain yang lebih elegan sebagai alternatif penyelesaian masalah. Silakan jika teman-teman IGI yang lain bisa ikut memperkaya ide saya ini. Sebagai SOLUSI, saya mengusulkan ide:

1. IGI DARI GURU UNTUK GURU. Untuk itu, mari kita beri kesempatan kepada para guru yang menjadi besar karena apa yang mereka telah lakukan untuk meningkatkan kompetensi diri dan kompetensi anak bangsa. Mereka bisa jadi para guru telah mendapat penghargaan secara formal dari pemerintah, lembaga tertentu, atau negara tertentu tetapi tidak tertutup kemungkinan mereka juga para guru belum sempat mendapat penghargaan formal. Tetapi mereka adalah para guru yang diakui peran sertanya dalam memajukan pendidikan dan penghargaan yang mereka dapatkan berupa apreasi positif dari masayarakat dan khalayak terhadap mereka. Mereka bisa saja sedang menjadi pengurus IGI , sedang berniat akan bergabung dengan IGI, atau bahkan di luar IGI sama sekal. Itu tidak masalah. Yang penting mereka tulus berjuang demi perbaikan pendidikan di negeri ini. Mereka adalah para guru yang telah mencatatkan sejarah kehidupannya dengan prestasi baik formal maupun non formal. Kita galang info sebanyak mungkin tentang mereka, lalu kita branding sedemikian rupa dan kita undang mereka ke seantero negeri agar menularkan kebaikna, ketulusan, dan prestasi mereka untuk bangsa ini melalui even-event IGI.

2. IGI dibangun dan dibesarkan oleh para pendiri dan pembina yang (sekali lagi saya menyebut) BUKAN ORANG SEMBARANGAN. Barangkali gaung mereka sebagai orang besar mulai dilupakan oleh khalayak, atau oleh kita sendiri sebgai orang IGI, atau bahkan oleh mereka sendri yang tanpa sadar mulai melupakan bahwa diri mereka sejatinya adalah MASIH ORANG BESAR! Namun, alangkah naifnya jika kita tidak kemudian menjadi sadardiri bahwa IGI itu sangat dekat dengan orang-orang besar yang tulus ingin memajukan negeri ini. KIta memiliki Pak Indrajati Sidi, kita memiliki pak Gatot Hp Priowirjanto , KIta memiliki Pak Baedhowi, kita memiliki Pak Ahmad Rizali, Kita memiliki Mas Mohammad Ihsan, bahkan kita memiliki Mas Satria Dharma, seorang tokoh literasi! Kenapa tidak kita berdayakan mereka secara intensif dan menjadikan IGI lebih bergerak progresif secara signifikan?

3. Ada banyak tokoh besar di luar sana, di luar IGI dan guru maksudnya. Mereka itu para pemenang penghargaan, akademisi, praktisi, penemu, pengusaha, para tokoh muda penggerak kemajuan, tokoh agama, atau tokoh masyarakat, dll. yang sangat peduli pada kemajuan pendidikan di negeri ini dan sangat ingin berbagi. Kenapa tidak kita ciptakan wadah untuk mereka. Mari kita isi kegiatan-kegiatan IGI dengan menghadirkan mereka sebagai penyebar inspirasi dan kebesaran negeri. Daripada mengundang menteri dan dirjen, apakah tidak mungkin suatu saat kita mengundang Prof. Arif Rachman, Sri Mulyani, Ipho Right Santoso, Andre Hirata, Nadhim Makarim (penemu Gojek), Ekky (penemu Sopo Jarwo), Hafiza Elfira, Elang Gumilang, Sandiaga S Uno, Kukrit (Suara Merdeka), Dahlan (Iskan Jawa Pos), Gus Mus, Emha, para mantan pejabat, mantan gubernur atau mantan bupati/walikota dll. yang peduli pendidikan dan amat rindu ketemu rakyatnya agar tetap bisa menyerukan kebaikan untuk kemajuan bangsanya. . Saya yakin Pak Ketum punya stok banyak kalau dari kalangan entrepreneur.

4. .... (Silakan tambahkan)

Dengan demikian, pelan namun pasti, IGI TUMBUH MENJADI BESAR BUKAN KARENA KETERGANTUNGAN KEPADA PEJABAT, TETAPI OLEH DIRINYA SENDIRI! Dan dengan ijin Tuhan Yang Maha Esa tentu saja. Ada yang setuju?

Terima kasih.

Salam Pergerakan Pendidikan!

Mampuono R Tomoredjo
Sekjen IGI
Stevens Road. Singapore

dibaca 699 kali