IKATAN GURU INDONESIA

Rasa syukur kami ucapkan begitu Ketua Umum IGI Muhammad Ramli Rahim memberitahukan bahwa surat   yang kita layangkan ke Mendikbud hampir tiga bulan lalu akhirnya mendapatkan tanggapan. Kejadian itu tepat setelah para Tetua (baca: Pembina IGI) berdiskusi akan pentingnya menjalin silaturahmi dengan berbagai pihak, khususnya Kemendikbud di grup khusus.  Ketum IGI mendapat informasi bahwa pada tanggal 28 Oktober 2016 IGI akan diterima untuk beraudiensi dengan menteri pendidikan dan kebudayaan RI, Prof. Dr Muhajir Effendi.

Bagi IGI ini adalah moment yang tepat karena kami para pengurus pusat IGI bersama-sama dengan pengurus wilayah DKI Jakarta dan Banten serta beberapa pengurus daerah bisa berkumpul dan bersilaturahmi dengan Mendikbud tepat pada hari Sumpah Pemuda. Sebuah hari bersejarah yang mempersatukan para pemuda Indonesia 88 tahun yang lalu untuk bersumpah setia demi menjaga persatuan dan kesatuan  tanah air, bangsa. dan bahasanya. Semangat Sumpah Pemuda  tentu saja menyelimuti hati para pengurus IGI yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia tersebut.Meski dengan biaya sendiri mereka datang dari berbagai pelosok negeri untuk berjumpa dengan sang Menteri.

Direncanakan pertemuan akan dihelat pada jam  11.00 -12.00 di ruang konferensi. Tetapi karena hari Jumat, acara diundur menjadi jam 12.45 -13.15 WIB. Namun rupanya acara Mendikbud  cukup padat sehingga  akhirnya terjadi penundaan sekitar enam jam dari waktu semula. Akhirnya kami bisa beramah-tamah dengan menteri selama 60 menit dari jam 17.00 -18.00. Meskipun sebagian dari kami harus merelakan diri ketinggalan pesawat dan tiket hangus sampai dua kali kami merasa puas dengan adanya silaturahmi ini. Pertemuan IGI-Mendikbud ini diharapkan bisa memberi informasi yang cukup kepada Mendikbud tentang keberadaan sebuah organisasi profesi guru yang bernama IGI langsung dari tangan pertama.

Selama setengah jam lebih ketua umum IGI memaparkan overview IGI dari A sampai Z. lntinya IGI sebagai sebuah organisasi profesi siap besinergi dengan pemerintah untuk meningkatkan kompetensi guru. Sejarah berdirinya IGI dan semua gerakan pembaharuan yang sudah dilakukan IGI dipaparkan dengan gamblang oleh Ramli. IGI bahkan sudah mempersiapkan diri dengan mewadahi para guru dengan  spesiasinya masing-masing di dalam ikatan guru mata pelajaran.  Mereka akan menempa diri dalam ikatan-ikatan guru mapel tersebut untuk menjadi para guru spesialis yang mumpuni.

Mendikbud nampak menyimak dengan serius overview dari Ramli. Raut muka Mendikbud yang mula-mula tampak lelah dan berpikir sangat keras perlahan  mulai menjadi lebih cerah. Apalagi setelah Sekjen Kemdikbud yang duduk bersebelahan dengan Ramli menjelaskan bahwa Kemdikbud akan berlaku seadil mungkin kepada semua organisasi profesi guru. Mendikbud sempat bertanya tentang jumlah organisasi profesi guru yang ada saat ini dan dijawab aklamasi oleh audiens bahwa jumlahnya semua ada 13. Mendikbud agak terkejut juga karena tampaknya selama ini yang diketahui menteri hanya ada satu perkumpulan guru.

Pada kesempatan itu Mendikbud meminta maaf karena setelah lama baru bisa beraudiensi dengan IGI. Info tentang surat IGI tampaknya tidak segera diketahui oleh menteti sehingga terjadi penundaan waktu audiensi yang cukup lama dari sekak pertama kali surat dilauangkan. Mendikbud juga  berpesan agar friksi- friksi kecil yang selama ini dialami oleh organisasi profesi anggap saja sebagai media untuk fastabiqul khairat alias berlomba lomba menuju kebaikan. Mendikbud berjanji akan mengayomi semua organisasi guru karena mereka adalah partner pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di lndonesia.

Mendikbud juga menyinggung tentang linearitas dan mengkritisi pembuat peraturan tentang linearitas yang dinilai agak berlebihan. Muhajir bercerita bahwa dirinya pernah dikenai sanksi masalah linearitas karena sebagai dosen, antara gelar S-1, S-2, dan S-3 yang dimilikinya tidak ada yang linear. Karena masalah itu Muhajir  mengalami penundaan turunnya gelar profesor selama lima tahun . Setelah tim penilai ditantang dan tidak bisa memberikan alasan kuat akhirnya turunlah gelar profesor tersebut.

Tentang Hari Guru Nasional yang bersamaan waktunya dengan ulang tahun salah satu perkumpulan guru, Mendikbud mengatakan bahwa hal itu sudah terlanjur diatur dalam sebuah Perpres. Jika ingin mengubahnya maka  Perpres tersebut harus diganti dulu. Ke depan semuanya akan dibenahi sehingga pemerintah bisa berlaku seadil-adilnya pada semua organisasi guru.

Berbicara tentang UKG, Muhajir menilai skor UKG yang akan dipatok sebesar 80 itu tidak rasional. Itu Ibarat menyuruh seseorang untuk tiba-tiba melakukan loncatan setinggi 3 meter padahal kemampuan sebenarnya hanyalah satu setengah meter. Jadi sampai kiamat pun orang tersebut tidak akan bisa melompat setinggi 3 meter.

Muhajir juga mengatakan bahwa ke depan yang menentukan kualitas, profesionalitas, dan keberlangsungan profesi guru adalah para guru itu sendiri. Sedangkan organisasi profesi yang ada  harus mewadahi para guru  dengan spesiasinya. Di dalamnya harus ada sub-sub organisasi yang berisi asosiasi atau ikatan-ikatan guru mata pelajaran. Peningkatan mutu itu ada di dalam wadah-wadah spesiasi tersebut. Seperti halnya dikalangan tentara , spesiasi dimulai ketika pangkat tentara memasuki level letnan dua sampai kolonel. Spesiasi tersebut misalnya infanteri, zeni tempur, kavaleri, dan lain-lain. Selain itu organisasi profesi guru harus benar-benar berisi para profesional guru, bukan berisi para pejabat atau kepala dinas. Bahkan kalau perlu jangan memasukkan menteri atau pejabat semacamnya ke dalam jajaran dewan pembina. Menteri memuji bahwa IGI sudah mendekati sebagaimana organisasi profesi guru yang selama ini diharapkan.

Pesan menteri, guru harus fokus mengurusi anak didiknya. Guru jangan terlalu banyak meninggalkan kelas karena menatar maupun mengikuti penataran. Guru juga jangan sibuk dengan rapat-rapat organisasi sementara anak didik tidak terperhatikan dengan baik. Pendeknya guru harus cerdas menyiasati waktu agar kelas tidak terbengkelai tetapi dia tetap berkembang profesional. Demikian juga dengan penggunaan LKS . Seharusnya lembar kerja siswa (worksheet) dibuat dan dipersiapkan sendiri oleh guru karena dialah yang tahu bagaimana kondisi anak didik yang sebenarnya di dalam kelas.

Terakhir Muhajir juga berjanji akan membenahi semuanya termasuk meminta masukan dari IGI tentang bagaimana mengurangi jumlah jam belajar siswa sehingga siswa tidak diberatkan tetapi mereka tetap belajar efektif. IGI siap untuk diajak bersinergi kapanpun ketika Kemdikbud membutuhkan sumbangsih IGI dalam membenahi pendidikan anak negeri.

Salam Sumpah Pemuda!

 

Mampuono

dibaca 1698 kali

Komentar

BLOG IGI

Share & bagikan info IGI ini

Discount Khusus

641/41



Rp 6.800,-

Data Pengunjung

» 16 Online saat ini
» 2631 Hari ini
» 2963 Kemarin
» 20460 Minggu ini
» 47457 Bulan ini
» 1309953 Tahun ini
» 2123315 Total
Tanggal 08 04 2017