IKATAN GURU INDONESIA

Sebenarnya, saya agak risih dengan dasi dan seragam. Apa sih fungsinya seragam? Sebagai identitas? Sebagai pengenal? Apa pula fungsinya dasi dalam cuaca yang panas ini? Apa batik tidak lebih mentereng dan nyaman dipakai?

Nah, hari ini (29/5) saya terpaksa harus berseragam putih-biru (tanpa dasi) bersama guru-guru se-Daerah Istimewa Yogyakarta--bahkan, di antaranya ada yang dari provinsi lain di Pulau Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi. Tiba-tiba saya menjadi nyaman. Saya merasa berada pada posisi setara, sejajar, dalam satu profesi dan kepantiaan. Guru-guru yang berseragam putih-biru itu kompak meninggalkan berbagai identitas personalnya sebagai guru berprestasi, sebagai kepala sekolah, sebagai doktor, sebagai calon doktor, sebagai pengembang Microsoft, sebagai dosen, sebaga pengusaha, dan berbagai label prestesius lain.

Pak Ari Sumarsono, misalnya. Dengan gelar sebagai master of enginering dan statusnya sebagai pengembang Microsoft, tetap ringan tangan ketika diminta ketua panitia untuk mencarikan sponsor. Dalam hitungan detik, satu SMS terkirim ke sebuah perusahaan raksasa teknologi dunia, Microsoft.

Selain Pak Ari Sumarsono, ada pula Bu Camara Dini. Beliau juga bergelar master of enginering. Peran Beliau dalam seminar yang bertajuk "Membangun Budaya Literasi Menuju Guru Pembelajar" yang digelar di SMKN 4 Jogja Minggu (29/5) kemarin adalah bendahara. Kendati telah menangani tetek-bengek keuangan, Beliau tidak segan ketika diminta menjadi sopir mengantar teman-teman dari luar DIY.

Oh, ya, ada Pak Slamet Pujiono, peraih dua gelar master ini tidak segan-segan ngelosot di lantai menata sistem jaringan internet untuk kepentingan konferensi video. Hal yang lebih seru adalah seragam yang dikenakan ketika gladi bersih, di punggungnya tertera tulisan: TEKNISI. Sungguh bersahaja! Karena itu, kami mendapuknya menjadi Sekretaris IGI Bantul.

Sosok lain, Pak Rohmadi Hidayat, ketua IGI DIY demisioner ini adalah lulusan program pascasarjana Institut Teknologi Bandung. Jabatan keren dan lulusan kampus keren. Apa peran Beliau? Apa saja. Jadi sopir pun jadi. Ketika tim memutuskan, seketika itu pula dalam senyumnya yang khas Beliau beraksi.

Sosok yang tak kalah pentingnya adalah Bu Widi Hastuti. Selain asesor akreditasi sekolah dasar, Beliau adalah calon doktor dari UIN Sunan Kalijaga. Dengan posisi yang prestesius, Beliau tidak menolak ketika panitia memutuskannya duduk di kursi registrasi. Berpanas-panas dan bersumpek-sumpek, Beliau tetap amanah.

Siapa lag, ya? Banyak! Ada Pak Sugeng Andono (ketua panitia yang tetap amanah kendati putranya sedang kritis di rumah sakit), Pak Ary Gunawan yang beberapa saat lalu dengan sponsor Telkom Indonesia diantar oleh para pembesar PGRI ke Korea, Pak Topari sang ketua Jaringan Informasi sekolah yang bekerja siang malam (kemarin saya lihat muka Beliau begitu kusut pengaruh kurang tidur. hehe). Ada Bu Maria, Bu Endar, Bu Fia Cwethi yang suaranya mendayu-dayu, Pak Eko yang sehari-hari merupakan kepala sekolah di daerah Gunungkidul, ada Pak Slamet Riyanto sang penulis 160+ buku, ada Bu Arifah, seorang master of business and administration yang baru-baru ini memberangkatkan siswa-siswanya ke Swedia atas usaha sendiri, dan ada Pak Harsoyo, sekretaris IGI DIY demisioner sekaligus Pengurus Pusat IGI periode 2016-2021.

Sosok yang juga begitu berkesan adalah Pak Elyas. Bagi saya, Beliau adalah tuan rumah yang baik. Semua disediakan, mulai tempat seminar hingga hotel untuk penginapan. Bahkan, homestay miliknya sendiri disiapkan untuk menampung guru dari luar kota. Ada begitu banyak guru hebat hingga saya tidak bisa menulisnya satu per satu.

Dari luar kota dengan seragam putih-biru, ada Pak Muhammad Ramli Rahim sang ketua umum yang terbang ke mana-mana dengan uang dari kantong sendiri, Dr. Rusnanie, kandidat doktor sekaligus Sekjen IGI Pak Mampuono Rasyidin Tomoredjo, dan lain-lain.

Begitu banyak orang keren, begitu banyak peran, semua bahu membahu. Uniknya, sebagai panitia sekaligus peserta seminar, mereka tetap membayar biaya seminar layaknya peserta pada umumnya. Mengesankan! Semuanya untuk satu tujuan: "Guru harus maju dengan tenaga dan modal sendiri, tak perlu menunggu si anu atau si dia.

Terima kasih untuk semuanya.

dibaca 1130 kali