IKATAN GURU INDONESIA

 

Goresan kecil ditangan Saharuddin, siswa SMAN 2 Sinjai Selatan itu sdh hampir tak terlihat tetapi penderitaan Pak Guru Honorer Mubazir, S.Pd terus berlanjut, hari Minggu, 12 Juni 2016 sang guru honorer ini dipindahkan dari sel tahanan polsek Sinjai Selatan ke sel tahanan polres Sinjai.

 

Berbagai upaya sudah kami lakukan, bahkan Camat, Kepala Desa Aska, Kapolsek, Legislator berkumpul hari itu dan membujuk orang tua Saharuddin, petani yang anak-anaknya atau kakak dari Saharuddin ini sering dibantu Andi Ahmad, Kepala Sekolah SMAN 2 Sinjai Selatan untuk mendapatkan beasiswa miskin tak bergeming. Orang tua ini tetap ngotot Pak Guru Honorer Mubazir dipenjara dan dilanjutkan proses hukumnya.

 

Saya pun berbicara langsung dengan ibu korban dan bahkan Muhammad Chozin, Staf Khusus Mendikbud menelpon langsung ibu korban dan Kepala SMAN 2 Sinjai Selatan tapi semua yang dilakukan tak merubah pendirian orang tua Saharuddin untuk tetap memenjarakan Pak Guru Honorer Saharuddin.

 

Andi Ahmad, Kepala SMAN 2 Sinjai Selatan bahkan menyatakan bahwa tak ada lagi guru di  SMAN 2 Sinjai Selatan yang berani mengajar Saharuddin dan mungkin saja, tak ada lagi guru di Kabupaten Sinjai yang berani mengajar apalagi mendidik Saharuddin karena takut akan menemui hal sama dengan yang dialami Pak Guru Honorer Mubazir. Akibat sesuatu yang tak disengaja, mereka harus mendekam dibalik jeruji besi.

 

Mengapa saya menyebut "Pak Guru Honorer"? 

Karena dalam Talk show di Fajar TV bersama Frans Barung, Kabah Humas Polda Sulsel, menyebut bahwa Pak Mubazir bukan guru tapi hanya honorer. Beliau mungkin tidak tahu derita guru honorer yang dengan ikhlas mengajar sepenuh hati meski pendapatan tak sepenuh jam pengajaran, kadang dibayar, kadang tidak, kadang tepat waktu dan lebih sering telat dibayarnya. Pak Mubazir mengisi kekurangan guru di SMA terpencil yang jauh dari ibu kota kecamatan itu.

 

Kepada Polisi, kami minta agar melalukan penangguhan penahanan atau minimal melakukan tahanan kecamatan agar pak guru Mubazir bisa tetap menjalankan tugasnya mengajar siswa lain. Menurut Andi Ahmad, tak perlu ada ketakutan akan upaya balas dendam keluarga Saharuddin karena di Desa mereka hampir tak ada masalah. Upaya damai juga harus terus menerus dilakukan agar penderitaan Pak Guru Honorer Mubazir bisa berakhir.

 

Kami juga meminta agar hasil visum dipublikasikan oleh polisi agar tidak memunculkan prasangka negatif terhadap kepolisian.

 

Bapak dan ibu, IGI membela dan mendampingi Guru yang "kelepasan" dan akhirnya terjadi kekerasan kepada siswa bukanlah karena setuju dengan kekerasan apalagi mendukung guru melakukan kekerasan atau mendorong guru menggunakan kekerasan dalam pendidikan, namun IGI menyadari sepenuhnya, belum semua guru-guru kita memiliki kompetensi yang baik. Jangankan empat kompetensi yang harus dimiliki guru, bahkan UKG yang hanya menguji dua kompetensi saja, mayoritas guru Indonesia belum lulus dan harus menjalani diklat baik tatap muka, daring maupun kombinasi keduanya.

 

Bertahun-tahun lamanya, guru tak tersentuh pelatihan, tak tersentuh diklat dan bahkan hampir semua diklat, pelatihan, workshop dan seminar dibuat sporadis, tak terukur dan tidak tepat sasaran. Ada guru yang spesialis pelatihan dan jauh lebih banyak guru yang tak pernah pelatihan sama sekali. Kini, dengan UKG, minimal pemetaan kemampuan guru sedikit terbaca dan diklat bisa tepat sasaran.

 

Maraknya LPTK karena minat alumni SMA memilih jurusan kependidikan juga menjadi masalah tersendiri, LPTK banyak yang melahirkan luaran yang kemampuannya dibawah standar lalu karena tidak lulus seleksi PNS memilih menjadi tenaga sukarela, tenaga honoror atau guru tidak tetap dan disisi lain, beberapa sekolah negeri juga membutuhkannya.

 

Pemerintah juga belum secara tegas melakukan pemerataan guru baik dari sisi kuantitas, kualitas maupun profesionalismenya pada bidang studi uang diampuh. Pemerintah juga belum berani menarik guru-guru PNS di Sekolah-sekolah swasta untuk mengisi kekurangan guru di sekolah negeri. Pemerintah terutama pemerintah daerah juga banyak menumpuk guru di kota dan mengabaikan desa dan dusun. Padahal kita berharap guru-guru hebat seperti Slamet Riyanto  yang telah menerbitkan lebih dari 160 buku tapi tetap bertahan di sekolah Kampung Di Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta.

 

Masalah pendidikan masih begitu banyak sehingga menempatkan guru dalam kekhawatiran apalagi dalam ketakutan yang nyata adalah sebuah malapetaka, IGI memilih untuk tidak sekedar berwacana di level nasional tapi terjun langsung mendampingi dan terus memantau guru-guru bermasalah dan jika ada guru-guru bermasalah disekitar bapak dan ibu, seperti ancaman, ketakutan, pungutan liar hingga masalah administrasi, jangan pernah ragu menyampaikannya ke IGI, baik ke IGI kabupaten/kota, IGI Wilayah maupun langsung ke kami di IGI Pusat, pastikan ada bukti rekaman atau fisik agar memudahkan penyelesaian. 

 

IGI tidak mau berbagai masalah guru membuat mereka tak punya waktu dan tak bisa berkonsentrasi pada peningkatan mutu guru yang menjadi konsen utama IGI disemua tingkatan karena masa depan Indonesia ditentukan hari ini oleh guru-guru kita.

 

Makassar, 14 Juni 2016

Muhammad Ramli Rahim

Ketua Umum Pengurus Pusat

Ikatan Guru Indonesia

 

 

dibaca 2915 kali

Komentar